PDIP Targetkan 20 Kursi di DPRD DKI


JAKARTA, BK

Dalam pemilu legislatif 2009 mendatang, jajaran pengurus DPD PDIP DKI Jakarta menargetkan perolehan kursi di DPRD DKI sebanyak 27 orang. Target itu, naik 16 dibandingkan dengan perolehan periode sebelumnya yang hanya 11 kursi.


“Untuk itu kami menyeimbangkan caleg-caleg yang diajukan antara yang tua dan muda dan lebih berkualitas. Dengam demikian, terjadi regenarasi bahkan yang muda-muda tidak hanya sekedar nomor sepatu,” ujar Ketua DPD PDIP DKI Jakarta R Adang Ruchiatna P yang berkunjung ke redaksi Berita Kota di Jakarta, Rabu (8/10). Kunjungan tersebut disertai jajaran pengurus DPD dan DPC se-Jakarta, serta caleg DPR RI Effendi Simbolon.


Guna mencapai target tersebut, dia mengaku, PDIP kini kembali ke khittah, yakni sebagai partai wong cilik. Dan melakukan konsolidasi ke bawah dengan konstituen. Kepada basis massa, pengurus partai mengakui kesalahan di masa lalu periode 1999-2005 yang mabuk kemenangan sekaligus meminta maaf.


“Itu fakta dan kami tak perlu malu mengakui dan minta maaf. Yang penting ke depan konstituen terhadap akar rumput. Jangan lantaran adayang dibutuhkan dari rakyat lalu mendekati wong cilik. Hal ini yang ditekankan kepada caleg yang diajukan,” tandasnya.


Salah satu langkah konkret yang dilakukan, lanjut Adang, pada musim mudik lebaran yang lalu, PDIP memberangkatkan ribuan pemudik dengan menggunakan 400 unit bus. Guna membiayai mudik gratis yang menelan dana sekitar Rp5 miliar, mantan Pangdam Udayana tersebut mengungkapkan hasil dari patungan jajaran pengurus DPP maupun DPD DKI Jakarta.


Sementara caleg yangd iajukan untuk DPRD DKI, menurut Adang, sebanyak 112 calon. Sebanyak 39 orang di antaranya (34,8%) merupakan kaum wanita atau melebihi kuota yang disyaratkan undang-undang.


Dari jumlah itu, yang berpendidikan SLTA hanya 47 orang (41,96%), sarjana 44 orang (39,2%), S2 (11 orang), D3 (8 orang), dan pendidikan doktoral sebanyak dua orang. “Artinya, melihat dari komposisi itu meski caleg berpendidikan SLTA masih lebih banyak, jika dibandingkan secara keseluruhan dengan mengenyam pendidikan jauh lebih banyak. Jadi caleg yang diajukan saat ini lebih berkualitas,” tuturnya. (aga)




Sumber: Koran BERITA KOTA

R. Adang Ruchiatna: Tidak ada nepotisme--PDIP TARGETKAN 27 KURSI DPRD DKI


TAMANSARI (Poskota)-Partai politik peserta Pemilu 2009 berlambang banteng moncong putih, menargetkan perolehan 27 kursi di DPRD DKI dari 95 anggota. Pada Pemilu 2004, partai ini meraih 11 kursi dari jumlah 75 anggota DPRD DKI.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan penambahan jumlah anggota DPRD DKI periode 2009-2014 sebanyak 20 orang itu merupakan resiko dari perkembangan jumlah penduduk Jakarta yang terus meningkat.

Tak kurang dari 38 partai politik (parpol) bakal mempertaruhkan segala dayanya untuk dapat mencapai target perolehan kursi di DPRD DKI. “Kami targetkan PDIP mendapatkan 27 kursi DPRD DKI Periode 2009-2014,” kata R Adang Ruchiatna, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Perjuangan (DPD PDIP) DKI Jakarta, Selasa (7/10).

Penegasannya dikemukakan saat silaturahmi dengan pimpinan PSOKOTA di kantor redaksi, Jl. Gajah Mada 100, Jakarta. Hadir bersama R. Adang antara lain Eriko Sutarduga, Sekretaris DPD PDIP DKI, dan sejumlah Ketua dan Pengurus Cabang PDIP tingkat wilayah Kota Jakarta. Rombongan diterima H Sofyan Lubis, Wakil Pemimpin Umum POSKOTA, Gunawan Eko Prabowo, Pemimpin Redaksi POSKOTA, dan lainnya.

PENUGASAN PARTAI
Menurut R. Adang, semua anggota PDIP ditetapkan menjadi caleg merupakan penugasan partai. Caleg dari PDIP untuk DPRD DKI 2009-2014 ada 112 orang. PDIP tidak mengenal istilah caleg nepotisme. Semua adalah kader partai yang berjuang dari bawah.

“Contohnya William Nuwawea adalah putra Pak Nuwawea, mantan menteri tenaga kerja. Ia berjuang dari bawah sebagai Ketua PDIP Jakarta Timur,” katanya sambil menunjuk ke arah William.

Komposisi wanita caleg untuk DPRD DKI dari PDIP dijelaskan R. Adang, sudah melebihi batas kuota 30 persen yakni 30 orang atau 34,84 persen. Usia caleg paling muda 21 tahun yakni Natasha Alexandra Litaay yang paling tua 67 tahun yakni Wakiman Wardoyo.

Pendidikan caleg paling rendah adalah SLTA sebanyak 47 orang, menyusul Diploma 3 sebanyak 8 orang, S-1 ada 44 orang, S-2 ada 11 orang dan S-3 ada 2 orang. PDIP berada pada nomor urut 28 peserta Pemilu 2009 juga menargetkan perolehan kursi DPR RI dari daerah pemilihan DKI sebanyak 6 kursi.

Hasil Pemilu 2004 partai meraih 3 kursi DPR RI dari DKI Jakarta. Caleg DPR RI paling muda dari daerah pemilihan Jakarta yakni Reni Novianita, 25 tahun, sedangkan yang paling tua H. Soekardjo Hardjosoewirjo, 72 tahun.

WONG CILIK
Kedatangan rombongan PDIP ini dijelaskan R. Adang antara lain kerana partainya memiliki sasaran yang sama dengan POSKOTA yakni masyarakat menengah ke bawah atau wong cilik.

Dalam kesempatan tersebut H. Sofyan Lubis menjelaskan Suratkabar POSKOTA sejak awal menempatkan diri sebagai media massa independen. Prioritas pemberitaannya pada pelayanan publik terutama yang berlangsung di Ibukota Jakarta dan sekitarnya.(toto)


Sumber: POSKOTA

Pancasila Dianggap Slogan Kosong

Jakarta - Surabaya Post Falsafah Pancasila saat ini hanya dianggap slogan kosong tanpa makna, sehingga hari kelahiran Pancasila 1 Juni menjadi momentum menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila. "Kami terpanggil menggelorakan kembali Pancasila dengan beragam cara," ujarnya Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Mayjen (Purn) Adang Ruchyatnadi sela-sela persiapan Gebyar Pancasila 1 Juni di Lapangan Monas, Jakarta, Jumat.


Menurut mantan Pangdam Udayana itu, Pancasila merupakan jawaban atas berbagai persoalan bangsa saat ini seperti merebaknya pengaruh neo liberalisme, serangan kapitalisme serta globalisasi. "Pancasila telah terbukti menjadi perekat dan penjaga kemajemukkan kita. Seharusnya kita bangga dan terus mengamalkan ajaran Pancasila yang digali Bung Karno," katanya.


Terkait peringatan harlah Pancasila 1 Juni nanti di Lapangan Monas, Adang mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan serangkaian acara Gebyar Pancasila 1 Juni yang antara lain diisi gerak jalan santai dengan peserta sekitar 125 ribu orang. Jalan santai yang mengambil rute silang Monas-Bundaran HI itu akan dilepas Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada Minggu pagi (1 Juni 2008).


Tidak hanya Megawati, keluarga besar proklamator RI Bung Karno serta Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas juga akan hadir dalam acara tersebut. Sebelumnya, Taufiq Kiemas mengatakan bahwa hari lahir Pancasila pada 1 Juni merupakan rangkaian sejarah yang tidak kalah pentingnya dengan Kebangkitan Nasional 20 Mei. "Kalau kita merayakan Harkitnas tapi melupakan kelahiran Pancasila, kan 'kocak' (lucu) juga," katanya.


Menurut dia, jika bangsa ini merayakan secara besar-besaran Harkitnas, maka hari kelahiran Pancasila juga harus diperingati pula dengan upaya yang sama. Pancasila pertama kali dicetuskan Bung Karno di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945.


Sumber: SURABAYA POST.info

Five Principles Assumed [By] a Empty Slogan


Philosophy [of] Five Principles in this time only assumed [by] a empty slogan without meaning. In consequence, birthday [of] Five Principles 1 June become the momentum of PDI Struggle reanimate the values [of] Five Principles [pass/through] to with refer to the activity.

In consequence PDI Struggle perform the event of Gebyar [of] Five Principles 1 June [in] Field Monas. Like laid open [by] Chief of DPD PDI of Struggle of DKI Jakarta Mayjen ( Purn) Adang Ruchyatnadi, [his] side have drawn up to with refer to the event of Gebyar [of] Five Principles 1 June which is for example filled [by] the easy going hiking with the participant [of] [about/around] 125 thousand people. easy going Road;Street taking crossed route [of] that Monas-Bundaran HI will be released [by] Head Leader of PDI of Megawati Soekarnoputri Struggle, Sunday ( 1 June 2008)


[Do] not only Megawati, big family of proklamator RI of Fella Karno and also Chief of Consideration Council Center The PDI of Struggle of Taufiq Kiemas also will attend in the event. " We [is] called to inflame to return the Five Principles by immeasurable [is] way of," word Adang


According to former that Pangdam Udayana, Five Principles represent answers to various nation problem [of] like merebaknya of influence neo-liberalisme, capitalism attack and also globalization. " Five Principles have been proven to become the glue and our custodian kemajemukkan. Us ought to be proud and continued to practice the teaching [of] Five Principles dug [by] the Fella Karno," he/she said


Previous, Taufiq Kiemas tell the, birthday of Five Principles [of] June represent the history network which [do] not less important with the National Evocation 20 May. " If we celebrate the Harkitnas but forget the Five Principles birth, kan barrel of fun ( lucu) also," he/she said


According to him, if this nation celebrate on a large scale Harkitnas, hence birthday [of] Five Principles also have to be commemorated also with the [is] same effort. Five Principles [is] first time triggered [by] Fella Karno [of] [in front/ahead] of conference of Investigator Body of[is Effort Preparation of Indonesia Independence ( BPUPKI) on 1 June 1945

The explaining of, long rentetan from that Harkitnas [is] Young man Oath, birth [of] Five Principles till independence proclamation. So that, augment the nya, abundant is not if harlah [of] Five Principles 1 June [is] also commemorated on a large scale like National Resurrection Day


Bang Taufiq, that way this Chief Deperpu [is] addressed [by] chummy [of] nearness friend, explaining, if Five Principles becoming state s philosophy [is] not borned, so also this beloved state constitution. " However, all that have come to the long rentetan history. And become the this nation obligation commemorate [it],” he/she said.

Sumber: POLITICAL-INDO.blogspot.com

120 Ribu Kader PDIP Ikuti Gerak Jalan Massal Gebyar Pancasila


Jakarta - 1 Juni merupakan tanggal lahirnya Pancasila. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memperingati hari ini dengan menggelar gerak jalan yang diklaim diikuti 120 ribu kadernya.


"Gerak jalan massal ini akan diikuti oleh tidak kurang dari 120.000 orang anggota dan kader Partai, yang berasal dari wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya," ungkap Daryatmo Mardiyanto, Ketua DPP PDIP Bidang Informasi dan Komunikasi, dalam siaran pers yang diterima redaksi detikcom, Minggu (1/6/2008).


Acara yang diberi nama Gerak Jalan Massal Gebyar Pancasila 1 Juni 2008 memiliki rute, mulai dari Monas, sebagai titik pertama melalui Panggung Utama, bergerak secara rapi, santai dan kekeluargaan, menuju ke titik berikutnya di Bundaran Hotel Indonesia HI, dan kemudian berputar dan kembali menuju finish di Monas.


Untuk mendukung kelancaran acara dan kerapian gerak jalan, seluruh peserta gerak jalan tercatat secara rapi, dilengkapi dengan tanda yang memberikan petunjuk bahwa peserta gerak jalan tersebut berasal dari wilayah ataupun Ranting Partai tempat peserta tersebut berasal atau terdaftar. Bahkan untuk mendukung kelancaran dan pengadministrasian yang baik, seluruh peserta gerak jalan massal dikoordinasikan dengan bus yang secara khusus disediakan untuk mereka.


Untuk pengangkutan peserta ini, mengikut sertakan bus yang khusus diadakan untuk itu, dan berjumlah sekitar 1.750 bus, yang akan berangkat dan kembali sesuai dengan awal keberangkatan masing-masing peserta. Untuk setiap wilayah / ranting tertentu akan memakai identitas atau tanda tersendiri sebagai bagian dari pengorganisasian kelompok masing-masing.


Acara Gerak Jalan Massal Gebyar Pancasila 1 Juni 2008 akan dihadiri dan dibuka melalui pengibaran bendera start oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang akan didampingi oleh Ketua Deperpu Partai Taufiq Kiemas. Seluruh anggota DPP Partai, Deperpu Partai, anggota legislatif partai tingkat Pusat dan tingkat Provinsi, DPR RI dan DPRD, akan hadir serta disaksikan oleh ragam masyarakat dan simpatisan partai lainnya.


Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung W menegaskan bahwa, Peringatan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 2008 ini, merupakan bentuk kepedulian yang hakiki terhadap lahirnya ideologi Negara, Pancasila, yang juga menjadi ideologi Partai, PDI Perjuangan. Komitmen dan kesungguhan dari seluruh jajaran partai serta kesungguhan dan pemahaman maknawi terhadap Pancasila ini haruslah mencakup pada seluruh sanubari dan isi hati masyarakat dan bangsa Indonesia .


Pelaksanaan gerak jalan massal gebyar Pancasila 1 Juni ini dipimpin oleh Ketua Panitia Nasional, Adang Ruchiatna, Ketua DPP Partai dan Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta. Ditegaskan oleh Adang Ruchiatna, bahwa acara ini dilaksanakan secara swadaya dan berbasiskan kemandirian organisasi, dengan peserta berjumlah sekitar 120.000 orang yang tercatat namanya masing-masing dan dengan KTA (Kartu Tanda Anggota) Partai.



Sumber: DETIK.com

Gebyar Pancasila--Besok, Mega Gerak Jalan di Monas


Jakarta, MyRMNews. Peringatan hari lahir Pancasila yang jatuh 1 Juni besok (Minggu), bakal dimeriahkan berbagai acara yang digelar di Lapangan Monas.

Acara bertajuk ‘Gebyar Pancasila 1 Juni’ yang digagas PDI Perjuangan ini antara lain diisi dengan gerak jalan santai. Sekitar 125 ribu orang bakal membanjiri Monas.

Bahkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri rencananya juga akan ikut serta. Jalan santai yang mengambil rute silang Monas-Bundaran HI itu juga akan diikuti seluruh kader PDIP dan simpatisan, termasuk Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas.

"Melalui kegiatan ini diharapkan bisa dibangkitkan kembali semangat cinta Pancasila oleh masyarakat Indonesia," kata Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Adang Ruchyatna.

Sebelumnya, Taufiq Kiemas mengatakan bahwa hari lahir Pancasila pada 1 Juni merupakan rangkaian sejarah yang tidak kalah pentingnya dengan Kebangkitan Nasional 20 Mei.

"Kalau kita merayakan Harkitnas tapi melupakan kelahiran Pancasila, kan kocak juga," selorohnya.

Menurut dia, jika bangsa ini merayakan secara besar-besaran Harkitnas, maka hari kelahiran Pancasila juga harus diperingati pula dengan upaya yang sama.


Sumber: RAKYAT MERDEKA.co.id / MYRMNews.com

PDIP Akan Gelar Gebyar Pancasila di Monas


JAKARTA - DPP PDIP akan mengelar Gebyar Pancasila pada Minggu (1/6), guna memperingati hari lahir Pancasila. Rencananya acara ini akan diikuti 125 ribu peserta.


Hal tersebut diungkapkan Ketua Panitia Gebyar Pancasila yang juga Ketua DPP PDIP Adang Ruchiyatna kepada wartawan saat meninjau gladi bersih di Silang Monas, Jakarta, Jumat (30/5/2008) sore.


"Kegiatan ini diikuti 125 ribu peserta yang dibawa dengan 1.800 bus. Mereka pakai kaos panitia," jelasnya.


Selain itu, acara gerak jalan ini dilakukan sekaligus melakukan operasi simpatik dengan tidak merokok dan membuang sampah sembarangan.


Adang juga berjanji kegiatan ini murni memperingati hari lahir Pancasila dan tidak melakukan kegiatan kampanye. "Tidak ada slogan dan lain-lain. Murni, sakral 1 Juni. Antisipasi pengamanan, kita turunkan satga 1.000 orang dan polisi 1.700 orang," jelasnya.


Mengenai kemungkinan acara ini dimanfaatkan pihak luar, Adang mengatakan pihaknya akan menerapkan disiplin kepada kader-kader PDIP. "Jelas ada yang memanfaatkan. Tapi tidak ada cerita yang lain. Saya akan lihat disiplin mereka. Ini test case untuk saya," pungkasnya.


Selain Adang, tampak juga Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufik Kiemas ikut meninjau gladi bersih di kawasan Monas.



Sumber: Okezone.com


Banggalah pada Pancasila


JAKARTA, KAMIS - Menjawab berbagai persoalan bangsa yang membelit begitu hebat, seperti dampak buruk kenaikan harga BBM, lumpuhnya sektor transportasi, ketidakpercayaan mahasiswa terhadap aparat, membudayanya masyarakat peminta-minta akibat kebijkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) serta lainnya, PDI Perjuangan sebagai partai oposisi ingin mengingatkan warga bangsa akan azimat bangsa yang terbukti ampuh mengatasi segala persoalan, Pancasila.

Sayangnya, Pancasila saat ini hanya dijadikan slogan kosong tak bermakna. Pancasila hanya dijadikan anak bangsa sebagai formalitas belaka.

"Padahal Pancasila telah terbukti menjadi perekat dan penjaga kemajemukan kita. Seharusnya, kita bangga dan terus mengamalkan ajaran Pancasila yang digali proklamator kita, Bung Karno," ujar Mayjen TNI (Purn) Adang Ruchyatna salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan, Kamis (29/5)

Adang menjelaskan semangat Pancasila harus tetap digelorakan dan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Rencananya, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menggelar acara Gebyar Pancasila 1 Juni. PDI Perjuangan akan melakukan acara Jalan Santai Ahad mendatang (1/6) bertepatan dengan hari lahir Pancasila.

Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan Taufik Kiemas menyebut, Pancasila adalah satu-satunya dasar negara yang menjadi perekat bangsa. Suami Megawati Soekarnoputri ini juga menyatakan, menjadi hal yang aneh bila hari lahir Pancasila, 1 Juni mendatang tak perlu diperingati.

"Aneh kalau kita hanya merayakan hari Kebangkitan Nasional. Padahal Kebangkitan Nasional itu rentetannya panjang, Mulai dari Sumpah Pemuda, terus 1 Juni. Lalu, dari 1 Juni kemudian timbulah negara proklamasi, punya konstitusi. Terus lagi, sampai 5 Juli 11 September. Jadi, kalau kita merayakan hari Kebangkitan Nasional tanpa memperingati Pancasila, agak lucu juga," kata Taufik Kiemas.

Taufik Kiemas menjelaskan, Kebangkitan Nasional adalah bagian dari sejarah negara Indonesia dalam memiliki dasar negara, memiliki konstitusi sehingga bisa mengenyam kemerdekaan seperti sekarang ini.

"Sementara hari lahir Pancasila adalah salah satu perjalanan panjang sejarah. Masak tidak dirayakan. 1 Juni tidak dirakayakan, sementara 20 Mei, hari Kebangkitan Nasional dirayakan, kan lucu jadinya. Kalau percaya 20 Mei, maka harus percaya Sumpah Pemuda, percaya Super Semar, percaya proklamasi dan harus percaya Proklamasi," tukas Taufik Kiemas.

Jacobus Majong Padang, atau Kobu menyatakan, negara ini berdiri dan dibentuk untuk melindungi segenap warga negara, termasuk para korban Lapindo yang kini sudah terlantar selama dua tahun. Termasuk yang lainnya.

"Pembiaran terhadap korban Lapindo,jelas itu merupakan pelanggaran. Barang siapa yang tega membiarkan itu adalah bertentangan dengan Pancasila." tandas Kobu.

Sedianya, PDI Perjuangan akan menggelar acara puncak peringatan hari lahir Pancasila yang akan dipusatkan di Monas, pada hari Minggu (1/6) mendatang.Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Hj Megawati Soekarnoputeri direncanakan akan mengibarkan bendera start dan ikut turun sebagai peserta. (Persda Network)

Sumber: KOMPAS.co.id

125.000 Kader PDIP Akan Ikuti Gebyar Pancasila di Monas (1/6)


Jakarta (ANTARA News) - Sekitar 125.000 kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dijadwalkan mengikuti peringatan lahirnya Pancasila "Gebyar Pancasila 1 Juni" di Silang Monas, Jakarta, Minggu (1/6) dan diisi gerak jalan santai yang akan dilepas Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas.

Plh Ketua DPD PDIP Provinsi DKI Jakarta Adang Ruchiatna didampingi Sekretaris DPD PDI DKI Eriko Sotarduga dan Wakil Ketua DPD DKI bidang Infokom DP Yoedha, mengatakan hal itu kepada pers di Jakarta, Sabtu petang.

Adang selaku ketua panitia Gebyar Pancasila menjelaskan, peringatan lahirnya Pancasila dimaksudkan agar seluruh komponen bangsa Indonesia mengingat dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari agar dapat mengatasi segala ketertinggalan di berbagai bidang dibandingkan dengan negara lain.

Menurut Adang yang juga Ketua DPP PDIP bidang Kesera itu, Pancasila merupakan jawaban atas berbagai persoalan bangsa saat ini seperti merebaknya pengaruh neo liberalisme, serangan kapitalisme serta globalisasi.

"Pancasila telah terbukti menjadi perekat dan penjaga kemajemukkan kita. Seharusnya kita bangga dan terus mengamalkan ajaran Pancasila yang digali Bung Karno," katanya.

Sebelumnya, Taufiq Kiemas mengatakan bahwa hari lahir Pancasila pada 1 Juni merupakan peneguhan sikap dan pendirian bangsa Indonesia atas Bhinneka Tunggal Ika.

Dia menyatakan, apa yang terjadi di Lapangan Gambir Jakarta 1 Juni 2008 merupakan rangkaian untuk mempertahankan Pancasila sebagaimana peristiwa Gambir 20 September 1945.

Pancasila pertama kali dicetuskan Bung Karno di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945.

Sementara itu, Eriko Sutarduga mengatakan, panitia menyiapkan petugas keamanan sebanyak 1.700 aparat kepolisian, 1000 Satgas PDIP DKI dan 5000 kader PDIP serta 1.800 bus unit bus untuk mengangkut peserta gerak jalan, 20 unit mobil ambulans beserta para medis serta 24 MCK.

Dia meminta maaf kepada kader PDIP yang tidak bisa ikut peserta Gebyar Pancasila karena keterbatasan tempat serta kepada masyarakat atas terganggu arus lintas di sekitar Monas. "Peserta Gebyar wajib menggunakan seragam kaos seragam dengan membawa KTP dan KTA PDIP, agar dapat dicegah dari kemungkian masuknya oknum yang bukan peserta gebyar," katanya.

Jalan santai yang mengambil rute silang Monas-Bundaran HI itu akan dilepas Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan menjelang finish dihibur grup band Radja dan band Serius. Acara tersebut juga Orasi Politik Ketua Umum PDIP serta pembagian "door prize" sebanyak 130 item bagi peserta gebyar antara lai berupa, tiga unit mobil, tujuh sepeda motor, puluhan pesawat tv dan hp.(*)



sumber: ANTARA.co.id

Adang Ruchiyatna: 1 Juni Momentum Gelorakan Kembali Pancasila


Jakarta (ANTARA News) - Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Mayjen (Purn) Adang Ruchyatna melihat falsafah Pancasila pada saat ini hanya dianggap sebagai slogan kosong tanpa makna, sehingga hari kelahiran Pancasila 1 Juni menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila.


"Kami merasa terpanggil untuk menggelorakan kembali Pancasila yang dilakukan dengan beragam cara," ujarnya di sela-sela persiapan Gebyar Pancasila 1 Juni di Lapangan Monas, Jakarta, Jumat.


Menurut mantan Pangdam Udayana itu, Pancasila merupakan jawaban atas berbagai persoalan bangsa saat ini seperti merebaknya pengaruh neo liberalisme, serangan kapitalisme serta globalisasi.


"Pancasila telah terbukti menjadi perekat dan penjaga kemajemukkan kita. Seharusnya kita bangga dan terus mengamalkan ajaran Pancasila yang digali Bung Karno," katanya.


Terkait peringatan harlah Pancasila 1 Juni nanti di Lapangan Monas, Adang mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan serangkaian acara "Gebyar Pancasila 1 Juni" yang antara lain diisi dengan gerak jalan santai dengan peserta sekitar 125 ribu orang.


Jalan santai yang mengambil rute silang Monas-Bundaran HI itu akan dilepas Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada Minggu pagi (1 Juni 2008).


Tidak hanya Megawati, keluarga besar proklamator RI Bung Karno serta Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas juga akan hadir dalam acara tersebut.


"Melalui kegiatan ini diharapkan bisa dibangkitkan kembali semangat cinta Pancasila oleh masyarakat Indonesia," katanya.


Sebelumnya, Taufiq Kiemas mengatakan bahwa hari lahir Pancasila pada 1 Juni merupakan rangkaian sejarah yang tidak kalah pentingnya dengan Kebangkitan Nasional 20 Mei.


"Kalau kita merayakan Harkitnas tapi melupakan kelahiran Pancasila, kan `kocak` (lucu) juga," katanya.


Menurut dia, jika bangsa ini merayakan secara besar-besaran Harkitnas, maka hari kelahiran Pancasila juga harus diperingati pula dengan upaya yang sama.


Pancasila pertama kali dicetuskan Bung Karno di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945.(*)



sumber: ANTARA.co.id

Dzikir, pikir, dan ukir

Ia seorang putera terbaik bangsa yang berasal dari Jawa Barat. Di mata para kenalannya, mantan Pangdam IX Udayana, ini memiliki 5N (Nyunda, Nyantri, Nyakola, Nyeni, dan Nyaah ka balarea) dan 5 er (Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer), serta mengerjakan sholat dan bisa silat. Ia seorang prajurit pejuang dan pemimpin yang zikir, pikir dan ukir. Ia juga seorang pemimpin yang pelayan, yang peka melihat, mendengar dan merasakan. Sehingga, berbagai kalangan mengharapkannya terpilih sebagai Gubenur Jawa Barat periode 2003-2008.

Mereka yang sudah lama mengenalnya, menilai mantan Irjen Depsos, ini seorang intelektual yang memiliki kemampuan yang kuat dan tepat dalam memajukan Jawa Barat (Jabar). Ia diyakini tidak hanya paham terhadap visi dan misi Jawa Barat, tetapi juga dipercaya mampu melaksanakannya. Sebab, ia seorang pemimpin yang zikir (selalu ingat kepada Allah Swt), pikir (berpikir tentang apa yang harus dilakukan) dan ukir (mampu mewujudnyatakan apa yang telah dipikirkan).

Dalam percakapan dengan wartawan Tokoh Indonesia, Yusak Sahat, menyinggung adanya dorongan dan dukungan dari berbagai pihak tentang keikutsertaannya dalam pencalonan Gubernur Jawa Barat, dengan merendah ia mengatakan, sebagai seorang prajurit pejuang siap menerima amanah rakyat, apalagi di daerah leluhurnya sendiri. Ia mengaku dirinya sangat menyatu dengan Jawa Barat. Walaupun, menurutnya, seorang gubernur bukanlah berarti menjadi orang yang paling tahu dan paling pintar di gubernuran itu. Seperti, seorang Danyon bukan harus orang terpintar di pasukannya.

Menjadi seorang pemimpin bukan berarti menjadi orang yang serba tahu tetapi menjadi seorang pemimpin menguasai bagaimana mengatur dan menggunakan orang-orang yang tahu sehingga sistem yang ada berjalan dan menghasilkan hal-hal yang nyata. Kemudian pemimpin adalah siap untuk bisa dikritik dan ketika ia tahu bahwa dirinya telah menyimpang, ia harus berani untuk mengundurkan diri.

Jadi, jika ia menjadi Gubernur Jawa Barat, ia antara lain akan merangkul kalangan perguruan tinggi di Jawa Barat, dengan melibatkannya dalam pembangunan di setiap sektor. Karena hampir seluruh perguruan tinggi yang hebat ada di Jawa Barat, ITB, IPB, Universitas Parahyangan, Universitas Pasundan, Universitas Padjadjaran, dan perguruan tinggi lainnya, bahkan UI termasuk Jawa Barat.

Kemudian ia juga akan melakukan evaluasi dan inventarisasi. Hal-hal yang baik akan diteruskan dan yang kurang baik dikoreksi. ”Kita harus belajar dari pengalaman untuk melihat ke depan. Bukan dengan menyalahkan dan menghapuskan hal-hal yang telah baik oleh karena kita sudah merasa berkuasa,” ujar pengurus Gerakan Anti Narkotika (Granat) dan yang juga terlibat sebagai sponsor dan pembimbing di beberapa pesantren di Bogor dan sekitar Jawa Barat ini.

Jika rakyat mempercayakannya menjadi Gubernur Jabar, ia akan membenahi lebih dulu mengenai kebijaksanaan otonomi daerah. Sebab melihat kondisi saat ini, terutama mengenai kebijaksanaan otonomi daerah, tiap-tiap pihak masih memperebutkan otoritasnya masing-masing dan merasa tidak membutuhkan satu dengan yang lain. Kabupaten/Kota merasa tidak membutuhkan Gubernur dan pemerintah Pusat. Selengkapnya, simak wawancara khusus wartawan Tokoh Indonesia mengenai visinya ’Pikeun Ngawangun Masyarakat Jawa Barat’.

Di mata mereka yang sudah sangat mengenalnya, Adang Ruchiatna adalah figur yang tangguh dan bermoralkan agama serta berani melakukan perubahan positif dengan segala konsekuensi dan eksistensinya. Maka, banyak kalangan meyakini, dengan jiwa leadership yang tinggi, putera Sunda yang 'menumpang' lahir di Jakarta 24 November 1942, ini visi-misi Jabar akan tercapai dan akan tercipta Jawa Barat raharja, rea ketan rea keton, anu tani pada marukti, sodagar pada baleunghar, nu jareneng teu matak ningnang, semah betah tumaninah di lemah anu genah tur merenah. Seni, budaya, jeung olah-raga oge tangtu nanjung, baranang mencrang tembong ka mana-mana.

Ia memang seorang figur yang memiliki moralitas, dalam arti takwa, amanah, menjadi teladan, bersikap konsisten, memiliki kepribadian yang utuh, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya, dan nyaah kepada rakyat.
Dengan pengalamannya yang segudang serta memiliki kecakapan di atas rata-rata, baik dari segi pendidikan, keagamaan, akhlak, maupun kepemimpinan, banyak orang yakin, suami Fofo Fauzia, ini akan mampu menggerakkan potensi masyarakat dan SDM di bidang pemerintahan untuk membangun Jawa Barat.

Lulusan AMN (1964-1967) yang terakhir berpangkat Mayor Jenderal ini menyebut diri 'menumpang' lahir di Jakarta. Kebetulan saat itu ayahnya adalah seorang juragan komis di bidang agraria (sekarang BPN) yang ditugaskan di Jakarta. Pada saat itu orang Indonesia yang menjabat sebagai komis masih sangat sedikit. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayahnya Raden Sanoesi Poeradiredja, lahir di Limbangan, Garut. Ibunya Hj. Soekaya berasal asli dari Bandung. Sejak Sekolah Dasar hingga SMA, ia bersekolah di Bandung. Ketika SD, pertama di SD jalan Balong Gede kemudian ketika naik kelas tiga, dipindahkan ke SD di jalan Pagarsih.

Ayahnya adalah seorang tentara pada zaman perjuangan kemerdekaan. Ketika itu pada tahun 1947, karena masa pergerakan kemerdekaan, mereka kembali ke Limbangan, Garut. Semua pemuda yang ada di daerah harus angkat senjata (berjuang) melawan Belanda. Karena ayahnya seorang yang cukup berpendidikan, maka diangkat menjadi Letnan Teritorial untuk wilayah Limbangan.

Ketika ia berusia empat tahun, ibunya sedang hamil tua (9 bulan), mengandung adik paling bungsu. Belanda dan tentara Nica masuk ke daerah Limbangan dan menangkap secara paksa (culik) semua perwira tentara Indonesia, termasuk ayahnya. Sejak itu, tahun 1947, keberadaan ayahnya tidak diketahui. Apakah masih hidup atau sudah meninggal. Jenazahnya pun tidak pernah ditemukan, walaupun telah dibuat sayembara dan usaha-usaha pencarian lainnya. Namun tidak seorang saksi atau bukti apapun yang memberikan keterangan apakah ayahnya telah meninggal ataukah masih hidup.

Sehingga sejak berumur lima tahun, ia dididik oleh seorang ibu dibantu saudara-saudara ibunya. Ibunya sendiri adalah bungsu dalam keluarganya. Dapat dibayangkan betapa sulitnya seorang ibu muda pada umur 32 tahun harus menjanda, merawat dan mendidik 7 anak. Saudaranya yang pertama waktu itu baru berumur 14 tahun.

Tapi kekompakan dalam keluarga ibunya membuat mereka terhibur dan tertolong dalam menapaki hidup setiap hari. Mereka memiliki uwa (paman) yang memberikan perhatian dalam berbagai keperluan mereka. Sehingga, ia sendiri nyaris tidak pernah merasa kehilangan seorang sosok ayah dalam keluarga.

Kebersamaan dan kekompakan di antara saudara ibunya luar biasa kuatnya. Terutama Wa' Icoh, yang selalu siap mengorbankan segalanya untuk mengurus mereka. Karena itulah sampai SMA, ia nyaris tidak pernah merasa bahwa tidak punya ayah. Inilah pelajaran pertama dari keluarga ibunya: Kebersamaan dan kekompakan. Tak perlu berhitung soal jasa dan kebaikan. Karena ini pula, bathin ibunya yang terpukul setelah ditinggal suaminya bisa mulai bangkit lagi, seiring dengan anak-anaknya yang mulai tumbuh besar.

Sang Ibu pun bisa mulai lagi berusaha. Di rumah, yang menjaga anak-anak adalah kakak-kakak ibunya yang laki-laki. Sementara, ibu bersama kakak-kakaknya yang perempuan, giat berusaha. ”Sementara, anak-anak Wa yang sudah besar, yang sudah meraih gelar sarjana dan bekerja, seperti Ceu Kiki, Ceu Yati dan Ceu Halimah, setiap bulan selalu memberi kami uang. Seperti persenan atau gaji bulanan saja. Makanya waktu kami masih kecil, nyaris tak pernah tidak punya uang. Tak ada rasa minder jadinya, walaupun kami tidak punya ayah,” kenang prajurit pejuang yang lulus Seskoad (1984) dan Sesko ABRI (1990) ini.

Waktu kecil, ia dan saudara yang laki-laki sebenarnya tukang ribut. Boleh dibilang nakal, tukang bikin masalah, tukang berkelahi di sana-sini. Sampai-sampai sering berurusan dengan polisi. Yang menyelesaikan ya Uwak-uwaknya itu. ”Hampir tak pernah wa' bilang ke Ibu, segala permasalahan saya di luar rumah,” kata pria yang gemar berolahraga renang, yudo, tenis, karate, silat , sepak bola dan golf ini.

Ia memang tidak ingin ibunya tahu tentang kenakalan di luar rumah. Ibunya tidak tahu kalau anak-anaknya pernah ditahan di kantor polisi. ”Barulah setelah saya jadi tentara dan harus meninggalkan Bandung. Uwak-uwak saya bercerita sama Ibu bahwa saya ini tukang ribut, sering berkelahi di sana-sini, dan pernah di tahan di kantor polisi.”

Sejak usia muda ia suka berguru silat, latihan bela diri dan berolahraga ke mana-mana. Sehingga seringkali sampai larut malam ibunya mencari ke sana ke mari. Sejak kelas 6 SD, ia sudah diikutkan dalam latihan silat. Ini mungkin karena faktor keturunan. Ayahnya ketika masih muda memiliki perkumpulan silat, seperti padepokan silat. Di situ pula ia dilatih oleh murid-murid ayahnya dan saudara-saudara sepeguruannya.

Ia banyak memanfaatkan masa-masa kecilnya melatih diri dalam berbagai macam olahraga seperti sepak bola, badminton, terutama olahraga beladiri yudo, ju jit su. Bahkan ketika di SMP, ia sempat belajar olahraga gulat. Tidak seperti sekarang, jaman dahulu tidak ada kursus-kursus. Jadi hampir satu hari penuh kegiatannya adalah olahraga. Tidak hanya pada siang, tapi juga malam hari. Setelah bermain badminton sore hari, dilanjutkan latihan judo jam enam sampai tujuh malam. Kemudian, sekitar jam sepuluh hingga jam duabelas malam, ia latihan silat. Pada masa itu, ia bersama rekan-rekannya, merasa dapat berguna kalau bisa berkelahi atau bertarung.

Setelah lulus dari SMA, ia masuk AMN (1964-1967). Ketika masuk Taruna selama tiga bulan adalah kehidupan yang paling sengsara baginya. Karena ia harus belajar mandiri. Selama ia di rumah, segala kebutuhan dan keperluannya bisa didapatkan dengan mudah. Maklum, ia anak ke enam dari tujuh bersaudara dan mempuyai empat saudara perempuan. Tetapi setelah masuk Taruna, semua dikerjakan sendiri, mencuci pakaian sendiri, masak sendiri.

Di tiga bulan pertama itu dirasakan sebagai waktu yang paling sengsara. Ketika itu, ia baru menyadari tidak ada yang lebih enak dibandingkan dengan bersama keluarga dan orangtua. Ketika masih di rumah, ia anggap itu hal yang biasa-biasa saja. Tetapi ketika keadaan sangat sulit dan jauh dari rumah, masa-masa bersama orangtua terasa amat dirindukan. "Saya berpikir kalau orang lain bisa melakukannya kenapa saya tidak," kenangnya. Ia pun memperteguh tekadnya menjadi tentara. Apa yang akan terjadi-terjadilah. Ia membulatkan tekad sehingga menjadi kuat.

Setelah itu, akhirnya ia lulus dari Magelang, kemudian masuk ke Infantri, sekolah di Sussarcab, cabang dari Infantri di Cimahi, Bandung. Setelah sekolah 6 bulan, ia ditugaskan di Sumatera Barat. Pada tahun 1971, ia bersama Hendro Priyono disekolahkan ke Australia mengambil bidang intelejen, ketika itu masih Letnan Satu dan masih jarang orang yang disekolahkan ke luar negeri.

Kemudian pada tahun 1974 ia dikirim ke Malaysia untuk disekolahkan di Sekolah Intel China untuk mempelajari bahasa Hokian. Kemudian ia ditempatkan di Riau. Ia termasuk pendiri Kodim di Tanjung Pinang. Saat itu belum ada Kodim, sehingga ia ditugaskan pada tahun 1972 untuk mendirikan Kodim bersama tim yang terdiri dari 10 orang.
Pada tahun yang sama, ia juga orang pertama yang memimpin penerimaan pengungsi Vietnam.

Pada saat itu, pemerintah sama sekali belum memiliki pengalamaan apapun dalam menerima pengungsi. Ketika itu, ia berpangkat kapten. Ia mengkoordinasikannya sedemikian rupa. Boleh dibilang, pola yang sekarang dalam menangani pengungsi yang dilakukan oleh pemerintah adalah pola yang ia lakukan pada waktu itu, karena memang Indonesia samasekali belum mengetahui langkah apa yang perlu diambil dalam menangani pengungsi.

Setelah itu, ia masih banyak mengemban tugas-tugas lain hingga ditugaskan di Timtim dan lain-lain. Hampir setiap enam bulan ia harus siap dengan tugas yang baru. Dan baginya panggilan tugas-tugas itu menjadi tantangan dalam menghadapi hal-hal yang baru. Hingga pada tahun 1991 ia ditempatkan di Samarinda dan di situlah ia mengadakan move untuk menciptakan kondisi tertentu di Ligitan.

Waktu itu, ia kirimkan komandan Kodim dan bawahan untuk masuk ke wilayah Ligitan dengan menggunakan pakaian Pramuka. Wilayah tersebut seharusnya status quo atau semua pihak punya hak. Alasannya melakukan hal tersebut karena Indonesia puya hak atas wilayah Ligitan itu. Ia pun mempertanyakan saat komisi I datang, kenapa Indonesia seakan-akan diam saja terhadap wilayah RI.

Dari situ ia diangkat menjadi Kepala Staf Divisi I Kostrad (1992) yang bertempat di Cilodong, Bogor. Kemudian menjadi Panglima Divisi I Kostrad (1993). Ia sebagai seorang Kepala Staf Divisi dan Panglima Divisi membawahi 15.000 anak buah, daerah tugasnya mencakup seluruh Jawa Barat (dan Banten), Jakarta dan Ujungpandang sebanyak satu Brigade. Di Jawa Barat mencakup Tanggerang-Serang, Cianjur, Sukabumi, Purwakarta, Tasikmalaya, dan Cirebon-Kuningan. Tugasnya saat itu memonitor seluruh wilayah, berkeliling di Jawa Barat, Jakarta dan Ujungpandang.

Selanjutnya, penerima satya lencana Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1978-1979, Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1981, Kesetiaan XVI 1983, Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1987-1988 dan Kesetiaan 1991 tahun 1994, ini pun diangkat menjadi Panglima Kodam IX Udayana di Denpasar.

Setiap menjabat, termasuk ketika menjabat sebagai Pangdam IX Udayana itu, ia selalu bersikap memberikan kesempatan kepada anak buah. Seperti, ketika peristiwa di Kabupaten Liquisa,Timor Timur, Januari 1995. Komandan Koremnya waktu itu Kiki Syahnakri. Begitu ada keributan, ia langsung datang dan tetap mengikuti apa yang dikerjakan oleh Komandan Korem. Kalau semua berjalan dengan baik ia biarkan, kalau ada yang kurang benar ia bantu.

Ia membiarkan bawahan yang mengekspos dan menanganinya. Baginya jika ada seorang pemimpin yang terlalu ikut campur, itu juga salah. “Sedikit-sedikit atasan, itu kurang memberikan kesempatan anak buah untuk berkembang,” kata pria berpostur 168cm dan 74 Kg, bergolongan darah B, berambut hitam lurus serta berwarna kulit sawo matang ini.

Kalau seorang bawahan itu hebat, yang sebenarnya hebat adalah atasannya. Seperti juga kasus ketika, ia menjabat sebagai Irjen di Depsos, walaupun yang melakukan kesalahan anak buahnya, ia harus tetap bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan.

Lalu, setelah menjabat Waka II TKN PKLH 1997 di Jakarta, ia pun diangkat menjabat Irjen Depsos 1998. Jabatan Irjen Depsos ini diembannya sampai pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid melikuidasi Departemen Sosial.

Cerita tentang dilikuidasinya Depsos ini menjadi bagian tersendiri dari kisah hidupnya. Sebab, dalam Jumpa pers Presiden RI dengan wartawan media cetak dan elektronik tanggal 29 Desember 1999 di Bina Graha Jakarta, Presiden antara lain memberikan pernyataan yang kemudian dilansir oleh berbagai media tanggal 30 Desember 1999 yang antara lain isinya: "Adang Ruchiatna adalah dalang, provokator, penyandang dana dan menggunakan agama untuk kekerasan dalam unjuk rasa pegawai Depsos memprotes pembubaran Depsos RI."

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kekecewaan pegawai Depsos terhadap keputusan presiden menutup Depsos yang mengakibatkan pergerakan dari bawah. Waktu itu ia malah mendorong agar pegawai tidak bertindak gegabah yang akan menimbulkan tindakan-tindakan anarkis.
Ketika itu, pegawai memutuskan untuk bertanya langsung kepada Presiden dan wakil rakyat yang ada di DPR dan MPR melalui unjuk rasa.

Pada kesempatan pertama, aksi unjuk rasa tersebut dilaksanakan secara spontan dan tidak terkendali dan pada saat itu para pejabat Depsos berusaha mencegah agar tidak dilakukan unjuk rasa. Namun demikian, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dalam perkembangan unjuk rasa selanjutnya, para pejabat Depsos mau tidak mau mengakomodir tuntutan pegawai dengan membentuk FAKSOS (Forum Aksi Kesetiakwanan Sosial).

Pada awal pembentukannya, ia dicalonkan sebagai Ketua Faksos. Namun karena posisi formalnya sebagai lnspektur Jenderal, maka ia menolak, dengan alasan bahwa tidak menjadi ketua Faksos pun ia merasa akan selalu dimintai pertanggungjawaban atas segala aktivitas pegawai.

Upaya lain agar gejolak unjuk rasa tidak berlarut-larut, para pejabat Depsos melakukan pembagian kerja. Sekjen melobi Badan Kepegawaian Nasional (BKN) dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Meneg PAN) sedangkan Adang Ruchiatna (lnspektur Jenderal) bersama-sama dengan pejabat Eselon I lainnya berusaha menjadi kelompok penyeimbang yang bertugas mencegah dilakukannya aksi unjuk rasa yang mengarah pada anarkisme.

Cara itu dilakukan melalui dialog intensif sebagai terapi dari kepanikan, keresahan yang cenderung mengarah pada kemarahan pegawai karena mereka tidak lagi memiliki menteri sosial dan sangat minimnya informasi dari Presiden tentang jalan keluar dari pembubaran Depsos.

Setelah melakukan berbagai dialog baik dengan pakar (melalui seminar dan dialog langsung), praktisi, LSM, Badan Kepegawaian Nasional, Menpan, DPR dan MPR, maka Faksos mengajukan alternatif untuk menampung aspirasi pegawai dan profesinya dalam bentuk Badan. Dengan pertimbangan praktis, psikologis dan politis, alternatif tersebut dianggap paling tepat dan layak untuk dibentuk.

Menanggapi gejola yang terjadi di Depsos, maka DPR menggunakan Hak Interpelasinya. Pada saat dilangsungkannya hearing tersebut, di Depsos sendiri dilakukan Shalat Istigoshah bagi yang beragama Islam dan kebaktian bagi yang beragama Kristen. Hal yang sama juga dilakukan di berbagai daerah (Kanwil Depsos, Kandepsos dan Panti-panti di lingkungan Depsos).

Setelah DPR menggunakan hak interpelasinya, Presiden mengajukan akan membentuk sebuah Badan yang langsung di bawah Presiden. Menneg MMK yang semula diduga sebagai pengganti Depsos, secara tegas ditolak presiden.
Setelah pernyataan Gus Dur di media massa, maka dalam salah satu apel rutin yang dilakukan pada Hari Jumat tanggal 30 Desember 1999, kembali pegawai Eks Depsos mengancam akan melakukan unjuk rasa, karena tuduhan pegawai dibayar untuk demo telah dianggap melecehkan aspirasi pegawai. Padahal jelas bahwa tidak seorangpun membiayai demo termasuk seorang Irjen Depsos.

Dalam kesempatan tersebut, ia berusaha meredam tanda-tanda akan dilaksanakannya aksi unjuk rasa terhadap pernyataan Gus Dur. Pada saat itu ia menyatakan, ”Saya sangat hormat kepada Gus Dur seorang kyai yang Presiden, dan saya sudah memaafkan kepada orang-orang yang memberikan informasi yang salah kepada Presiden Rl. Dosa besar menipu Presiden dengan memberikan informasi yang palsu. Di bulan puasa ini, semakin besar amal seseorang jika kita memberi maaf kepada orang lain.”

Tanggal 29 Desember 1999, Presiden melakukan jumpa pers yang kemudian disiarkan di berbagai media elektronik sore harinya, isi beritanya: Presiden menganggap bahwa aksi unjuk rasa Depsos telah dibiayai oleh Adang Ruchiatna. Pada saat itu ia sendiri sedang berbuka puasa bersama Quraish Shihab, Dubes Indonesia untuk Mesir di kawasan Kemang.

Tanggal 30 Desember 1999, ia menemani Menneg MMK melakukan peninjauan bencana gempa bumi ke Pandeglang. “Sepanjang perjalanan saya nyaris tidak percaya bahwa nama saya disebut. Kemarin saya pikir Presiden membuat pernyataan tersebut hanya canda dari teman-teman saya yang melaporkan, tapi kemudian sebagian koran memuat berita tersebut di halaman muka. Subhanallah, Alhamdulillah.”

Sehubungan dengan pernyataan Presiden tersebut, ia menyatakan hanya akan mengambil hikmahnya bahwa tidak semua pekerjaan baik akan dinilai baik oleh orang lain dan semua pekerjaan pasti menghadapi resiko. Sebagai seorang prajurit yang loyal kepada atasan, ia akui perlu terus melakukan instrospeksi diri baik atas pernyataan tersebut ataupun hal yang lain.

Suara Rakyat
Setelah berkarir dalam kemiliteran, ia banyak juga belajar di berbagai disiplin ilmu. Ia kuliah di Universitas Terbuka mengambil gelar S.Ip. Kemudian meraih sarjana hukum di PTHM pada tahun 1996. Pada tahun 2000, ia meraih gelar Magister di Universitas Satyagama. Bahkan dari tahun 2001, ia kuliah pasca sarjana Magister Hukum di Universitas Gajah Mada. Baginya pendidikan menjadi modal dalam mengemban tugas-tugas di luar kemiliteran. "Kembali ke bangku kuliah merupakan hal yang menarik bahkan menjadi budaya tersendiri bagi saya," kata ayah dari dua anak yakni Yuke Yurike (Bandung 22-02-1975) dan Rhino Prayudhi (Bangkinang, 08-07-1978) ini.

Padahal, sebenarnya dengan pendidikan militer sudah mencakup semua pendidikan. Maka ketika kuliah di bidang bisnis ataupun hukum, ia tidak merasakan sama sekali kesulitan. Sebab hal-hal yag dibahas di bangku kuliah sudah merupakan pengalaman hidup ketika bertugas dalam kemiliteran.

Tentang kondisi bangsa ini, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini, secara pribadi ia tetap optimis dalam melihat ke depan bangsa ini. Ia melihat kondisi bangsa saat ini, adalah merupakan sebuah proses yang harus dilewati dan juga pernah dilewati oleh berbagai bangsa di muka bumi ini. Sebuah proses menuju yang lebih baik. "Pada waktunya nanti kita akan dapat bangkit kembali dengan memulainya melalui mempersiapkan orang-orang yang akan memimpin," ujarnya optimis.

Menurutnya, keadaan sekarang adalah sebuah akibat. Jika semuanya dibuka secara mendadak, terjadi kebablasan atau eforia. Karena kita tidak punya persiapan dalam menghadapi kebebasan yang dahulu tidak pernah kita rasakan. Suara-suara yang menyampaikan banyak hal saat ini, kita harus biarkan sebagai bagian dari proses perkembangan yang nanti semua akan teruji dan terkristal oleh waktu.

Tetapi sekaligus kita tetap mengingatkan bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak jatuh, sehingga perlu diatur. Masyarakat kita saat ini sangat sulit diatur. Ketika diatur, nanti akan mengatakan otoriter dan sebagainya. Tetapi nanti ada masanya mereka yang akan meminta agar dirinya diatur. Apalagi dengan bergulirnya otonomi daerah semua orang ingin mendapatkan bagiannya masing-masing dan tidak dapat memuaskan semua pihak.

Dalam kaitan ini, ia mengatakan kalau kita mau mengetahui apa yang dibutuhkan bangsa ini, kita harus mampu mendengarkan suara rakyat. Sehingga dengan begitu setiap rencana pembangunan harus berwawasan budaya artinya apa yang menjadi kehendak rakyat bukan kehendak pemerintah atau kehendak pemimpin.

Ia juga berpendapat, ketika berbicara tentang KKN, bukan lagi berbicara tentang demokrasi atau tranpransi dan sebagainya, tetapi melakukan keteladan. Siapkah kita menjadi teladan? Karena dengan menjadi pemimpin yang berkuasa, sangat mudah cenderung untuk korup. Istilah orang jawa bilang, “Tidak kuat derajat aneh-aneh kelakuannya”. Ketika menjadi pejabat berubah kelakuannya karena tidak kuat derajatnya.
Baginya, seorang pemimpin selain menjadi teladan, juga harus menjadi pelayan. Termasuk melayani dalam bentuk mendengar, melihat dan merasakan. Jadi ketika seorang pemimpin sudah tidak lagi mau mendengar, melihat dan merasakan penderitaan rakyatnya, pemimpin itu telah gagal menjadi pemimpin.

Kalau berbicara tentang visi dan misi, bangsa kita adalah yang paling hebat, dan kita selalu jatuh ke dalam sikap simbolisme. Tetapi ketika ditanya, bagaimana menjalankannya kita tidak tahu. Menurut Komisaris Utama PT. Bina Prima Perdana dan Wakil Komisaris PT. Dipasena Citra Darmaja ini, masyarakat kini memerlukan bukti dan keteladanan.

Keteladanan Ibu
Dalam pembentukan karakter sebagai pribadi, baginya ajaran orang tua paling melekat. Sejak kecil, kedua orang tuanya, terutama ibunya, telah membekalinya dengan pepatah yang sederhana dan selalu ia ingat setiap saat: “Ulah kumaha engke, tapi engke kumaha.” Pepatah yang mengandung makna bahwa kita harus selalu berpikir panjang, jangan bagaimana nanti, tapi nanti bagaimana.

Pepatah lain yang selalu ia ingat adalah: “Ulah eleh rigig, sing bisa ngigelannana” yang mengandung makna bahwa kita harus bisa menyesuaikan diri. Kedua pepatah yang sederhana itulah yang selalu ia pakai sebagai pakarang dan ageman dalam mengarungi kehidupan ini, dalam rangka ikhtiar neangan karaharjaan lahir jeung batin.

Juga ajaran-ajaran yang sederhana tapi tampak secara konkrit dalam perilaku ibunya. Misalnya, dalam menerima tamu, minum dan makan harus disuguhkan. Ibunya dalam setiap menerima tamu pasti menawarkan minum dan makan. Dan jika sudah bertemu orang lain itu selalu menjadi seperti saudaranya.

"Beliau juga orang yang bukan pilih kasih apalagi terhadap anak-anak dan cucu-cucunya. Beliau memperlakukan cucu-cucunya harus menghormati orangtuanya. Ibu juga seorang yang mandiri, sejak muda ia telah menjadi pendiri sebuah rumah jompo. Alasan antara lain ’kalau nanti anak-anaknya tidak mau mengurusinya, ia akan tinggal di situ’. Beliau bersikap tidak mau berhutang kepada orang lain termasuk anak-anaknya," ucapnya mengenang Sang Ibu yang sangat dikaguminya.

Satu lagi teladan ibunya. Sebelum meninggal, Sang Ibu mengumpulkan anak-anaknya untuk membicarakan sebuah tanah warisan. "Ibu meminta untuk di bangun di atas tanah 800 m2 tersebut sebuah masjid yang indah." Masjid itu pun mereka bangun dengan biaya berkisar Rp 430 juta. Masjid yang diberi nama Masjid Al-Fath di Jalan Pagarsih -Gg Maskardi, Bandung, itu diresmikan Walikota Bandung A'a Tarmana pada 11 Maret 2001.

Sifat dari Sang Ibu yang sangat ia kagumi adalah kerendahan hatinya. Sebagai gambaran, ibunya mempuyai seorang pembantu pribadi, namanya Miah. Jika masa cuti Miah tiba, ibunya yang mengantarkan pulang langsung ke kampung dan setelah masa cuti selesai Sang Ibu juga yang menjemput kembali. Dan yang lebih mengharukan adalah ketika hari Lebaran datang. Sang Ibu sebelum menerima “Sungkeman” dari anak-anaknya, terlebih dahulu meminta maaf kepada Miah, pembantunya. Sang Ibu mengatakan minta maaf jika berbuat salah atau terlalu cerewet. Padahal Sang Ibu bukan seorang cerewet atau bawel.

Suatu hal lagi yang amat dikenang dari ibunya. Setelah ia meraih pangkat kapten, Wa' Icoh bercerita, "Dang, kamu harus sayang dan jangan berbuat dosa sama ibu kamu." "Memangnya kenapa Wa?",tanyanya. Kemudian Wa' Icoh melanjutkan, "Tahu nggak kamu, ibu kamu itu sangat prihatin sama kamu. Dia sampai berpuasa empat puluh hari muasain kamu, mutih, supaya kamu menjadi orang baik dan bener." Rupanya begitulah bathin seorang ibu. Bisa merasakan segala sesuatu yang terjadi sama anaknya. Jauhnya jarak di antara mereka, tidak memberatkan ibu untuk terus melakukan kontak.

Sang Ibu sering mengirim surat yang isinya nasehat kepadanya supaya membaca surat anu, ayat sekian, sebanyak sekian kali. Sambil membayangkan wajah Sang Ibu, ia sering berfikir, ada apa ini? Rasanya tidak ada masalah. Baru kemudian ia mengerti. Waktu sedang menjalani tugas intelijen setelah sebelumnya membaca ayat-ayat AI-Qur'an yang ibu anjurkan, ia menghadapi tiga peristiwa berbahaya. Tapi alhamdulillah bisa keluar dengan selamat. “Oh, ini rupanya khasiat bacaan ayat-ayat AI-Qur'an yang seperti dianjurkan oleh ibu,” kenangnya.

Maka, semakin hari, semakin bertambah kekagumannya terhadap Sang Ibu. Suatu kali, Sang Ibu berkata dalam suratnya, "Dang, Mak mimpi tentang kamu. Mak minta kamu supaya membaca ini." Ia pun patuh membaca ayat Al-Quran yang disarankan Sang Ibu sebelum semua peristiwa berbahaya itu terjadi. Rupanya ibu sudah mendapat isyarat tentang apa yang akan dihadapi oleh anaknya.

Tambah tua, ia semakin mengerti dan yakin akan kasih sayang ibunya. Nasehat ibunya selalu sederhana. Ketika ia bertugas, ibunya menasehati, "Laksanakanlah tugas kamu sebaik-baiknya." Walaupun sebenarnya Sang Ibu tidak suka ia jadi tentara. "Kamu tentara. Mak tahu tentara itu tidak akan menjadi kaya. Kalau ada apa-apa, bilang sama Mak," begitu Sang Ibu sering mengingatkannya.

Menyangkut kehidupan rumah tangga, Sang Ibu juga tak pernah ikut campur. Termasuk dalam memutuskan siapa yang menjadi isterinya. Ketika itu, ia sedang bertugas di Sumatera Barat. Ia punya teman latihan Yudo, yang ternyata punya adik yang cantik bernama Fofo Fauzia. Ia pun mendekati dan cukup berlangsung cepat, hanya dalam waktu 2 bulan ia melamar dan kemudian menikah di Bandung tahun 1974. Mereka dikarunai 2 orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki.

Ketika itu, ia meminta nasihat dari Sang Ibu. Sang Ibu memberi nasehat begini: "Dang, coba kamu pikirkan baik-baik. Sholat tahajud dan berpuasalah, sebelum kamu menentukan bakal calon istri kamu. Pernikahan itu sakral." Setelah berkeluarga dan punya anak, Sang Ibu sering mengingatkan, "Jaga istrimu! Mak do'akan kamu supaya bisa ngurus anak dan istri."

Sang Ibu juga sering mengingatkannya untuk selalu memperhatikan orang kecil. Setiap kali ia mau pulang dari rumah ibunya, beliau suka bilang, "Kalau ada uang, kasih tuh pembantu dan sopir. Merekalah yang mengurus Mak selama ini. Kalau kamu tidak punya uang, ini ada uang Mak," katanya, sambil mengeluarkan uang untuk diberikan kepada pembantu dan sopir ibu. Tak habis-habisnya rasa kagumnya terhadap sang Ibu, yang ternyata beliau punya banyak anak angkat. Sang Ibu yang baik hati ini telah menghembuskan nafas terakhirnya pada 4 Juli 2002. Tapi semangatnya tetap hidup dalam sanubari setiap generasi penerusnya.

Sumber: TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)